Harga Bensin Premium Turun. Apa Dasarnya dan Dampaknya buat Rakyat?

Tanggal 1 Desember 2008 harga bensin premium diturunkan dari Rp 6.000 per liter menjadi Rp 5.500. Penjelasan tentang kebijakan penurunan harga ini kabur. Sebelumnya sudah ramai dibicarakan bahwa harga minyak internasional turun kok harga BBM dalam negeri tidak diturunkan? Dahulu ketika menaikkan harga BBM yang dijadikan acuan adalah harga minyak mentah di pasar internasional yang dibentuk oleh NYMEX.

Mari kita segarkan ingatan kita ketika bensin premium harganya dinaikkan dari Rp 2.700 menjadi Rp 4.500 per liter. Ketika itu dikatakan bahwa yang menjadi landasan adalah harga minyak mentah yang US$ 60 per barrel dan nilai tukar rupiah yang Rp 10.000 per dollar AS.

Di bawah saya berikan perhitungan yang disederhanakan dan hanya garis besarnya. Perhitungan didasarkan atas data dan asumsi : harga minyak mentah US$ 50 per barrel. Kurs rupiah Rp 12.000 per US$. Produksi 930.000 barrel per hari. Konsumsi 60 juta kiloliter per tahun. Bagian Indonesia 70 % dari produksi atau lifting. Biaya-biaya lifting, refining dan transporting keseluruhannya rata-rata US$ 10 per barrel. Seluruh minyak mentah dijadikan satu macam BBM saja, yaitu bensin premium. Produk sampingan yang merupakan reducing factors tidak dihitung.

Terlebih dahulu saya kemukakan alur pikir dan perhitungan kasar pemerintah ketika menaikkan harga bensin premium dari Rp 2.700 menjadi Rp 4.500 per liter.

Untuk dijadikan ekuivalen dengan harga minyak mentah, jumlah ini harus dikurangi dengan biaya-biaya lifting, refining dan transporting sebesar US$ 10 per barrel. Biaya ini sama dengan (10 : 159) x 12.000 = Rp 755 (dibulatkan) per liter.

Maka harga bensin premium Rp 4.500 per liter ketika itu ekivalen dengan harga US 61,55 per barrelnya. Perhitungannya : Harga per barrel dalam dollar AS menjadi (4.500 x 159) : 10.000 = US$ 71,55. Dikurangi dengan biaya-biaya lifting, refining dan transporting yang US$ 10 menjadi US$ 61,55.

Jadi ketika menaikkan harga bensin premium dari Rp 2.700 menjadi Rp 4.500 per liternya, harga ini sudah ekuivalen dengan harga yang lebih tinggi dari harga minyak mentah internasional yang hanya US$ 60 per barrelnya. Tetapi karena perhitungan ini secara sangat garis besar dan kasar, kita anggap sama saja, atau Rp 4.500 per liter bensin premium ekuivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 60 per barrel.

Maka ketika itu pemerintah mengatakan bahwa mulai hari itu kita tidak mengenal lagi subsidi. Harga akan naik turun persis sama dengan ekuivalennya harga minyak mentah di pasar internasional.

Nah kalau jalan pikiran pemerintah (yang walaupun menurut saya salah) kita ikuti, harga Rp 5.500 per liter bensin premium ini didasarkan atas harga minyak mentah berapa dan atas dasar nilai tukar rupiah berapa?

Kalau kita anggap nilai tukar yang diambil Rp 12.000 per dollar AS, harga bensin premium yang Rp 5.500 per liter ekuivalen dengan harga minyak mentah US$ 64,53 per barrel. Hitungannya sebagai berikut. Menentukan harga bensin premium yang Rp 5.500 per liter menjadi angka ekuivalennya minyak mentah harus dikurangi dengan biaya-biaya lifting, refining dan transporting sebesar Rp 755 per liter, sehingga menjadi Rp 4.745 per liternya atau Rp 754.455 per barrelnya. Dengan kurs Rp 12.000 per US$, ini sama dengan US$ 63 (dibulatkan). Biaya-biaya lifting, refining dan transporting yang dalam perhitungan sebelumnya Rp 630 per liter sekarang menjadi Rp 755, karena kurs sudah menjadi Rp 12.000 per US$.

Jelas bahwa harga bensin premium yang Rp 5.500 per liternya lebih mahal dari harga minyak mentah di pasar internasional yang berlaku, karena sekarang ini berkisar pada US$ 50 per barrelnya. Artinya, pemerintah memberlakukan harga bensin untuk rakyatnya dengan harga yang lebih tinggi dari harga minyak mentah internasional.

Maka kalau istilah subsidi tetap saja dipakai dan asumsi harga minyak mentah US$ 50 per barrel, kurs Rp 12.000 per US$, untuk setiap liternya rakyat memberi subsidi kepada pemerintah sebesar Rp 971. Dengan konsumsi sebesar 60 juta kiloliter subsidi keseluruhannya sebesar Rp 58,26 trilyun. Perhitungannya sebagai berikut : Harga minyak mentah per liter = (50 : 159) x 12.000 = Rp 3.774. Ditambah biaya-biaya sebesar Rp 755 menjadi Rp 4.529. Dijual dengan harga Rp 5.500. Untung Rp 971. Konsumsi 60 juta kiloliter per tahun, sehingga rakyat memberi subsidi kepada pemerintah sebesar 60 juta kiloliter dikalikan dengan Rp 971 = Rp 58,26 trilyun.

Kalau kita tidak menggunakan metode replacement value dalam menghitung harga pokoknya bensin premium, melainkan dengan metode cash basis, atau berapa perbedaan antara uang yang diterima dan dikeluarkan, kelebihan uang pemerintah neto (setelah dikurangi dengan kebutuhan untuk impor neto) sebesar Rp 263,7 trilyun per tahun. Hitungannya sebagai berikut :

Harga jual Rp 5.500 per liter. Harga pokok Rp 755 per liter. Kelebihan uang tunai per liternya Rp 4.745. Konsumsi sebesar 60 juta kiloliter sehingga kelebihan uang tunainya 60 juta kiloliter dikalikan dengan Rp 4.745 atau Rp 285 (dibulatkan) trilyun per tahun.

Namun produksi kita sebesar 937.000 barrel per hari atau per tahun 342 juta barrel. Yang milik Indonesia 70 % atau = 239 juta barrel. Kebutuhannya konsumsi sebanyak 60 juta kiloliter = 377 juta barrel. Kekurangannya yang 138 juta barrel (239 juta barrel û 377 juta barrel) harus diimpor dengan harga US$ 50 per barrel. Kurs Rp 12.000 per US$. Uang rupiah yang harus dikeluarkan untuk impor adalah: 138 juta x 50 x 12.000 = Rp 83 trilyun. Kita lihat tadi, kelebihan uang tunainya Rp 285 trilyun, sehingga pemerintah netonya kelebihan uang tunai sebesar Rp 285 trilyun û Rp 83 trilyun = Rp 202 trilyun.

Alangkah malangnya rakyat kita yang harus membeli bensin premium dengan harga yang mengandung subsidi kepada pemerintah sebesar Rp 202 trilyun. Rakyat ini dalam keadaan kemiskinan dan sedang menderita didera krisis ekonomi yang jelas sudah memasuki resesi dan sangat mungkin menjadi depresi.

Oleh Kwik Kian Gie

http://www.koraninternet.com/webv2/lihatartikel/lihat.php?pilih=lihat&id=10819

2 Tanggapan

  1. “Namun produksi kita sebesar 937.000 barrel per hari atau per tahun 342 juta barrel. Yang milik Indonesia 70 % atau = 239 juta barrel. Kebutuhannya konsumsi sebanyak 60 juta kiloliter = 377 juta barrel. Kekurangannya yang 138 juta barrel (239 juta barrel û 377 juta barrel) harus diimpor dengan harga US$ 50 per barrel. Kurs Rp 12.000 per US$. Uang rupiah yang harus dikeluarkan untuk impor adalah: 138 juta x 50 x 12.000 = Rp 83 trilyun. Kita lihat tadi, kelebihan uang tunainya Rp 285 trilyun, sehingga pemerintah netonya kelebihan uang tunai sebesar Rp 285 trilyun û Rp 83 trilyun = Rp 202 trilyun.”

    Ini seperti artikel Kwik terdahulu yang tidak (lupa) memasukkan perhitungan cost recovery -sehingga perhitungannya kurang tepat-, diulang lagi dalam dalam simulasi perhitungan di atas.

  2. Kita pakai ratenya 1 USD=Rp 11 ribu ya? Di Detik.com ratenya segitu. Lagi pula aneh produksi minyak yg mayoritas dalam negeri kok pakai dollar. Turunnya nilai rupiah juga karena pemerintah kinerjanya payah.

    Dengan biaya lifting US$ 15/brl dan biaya pengilangan dan distribusi+profit US$ 15/brl (lihat http://infoindonesia.wordpress.com/category/bbm) maka total biaya+profit US$ 30/brl.

    Pada harga Rp 4.000/liter = US$ 58/brl.

    Pemerintah pada harga Rp 4.000/liter untung:
    US$ 58-US$30 x 342 juta = US$ 9,5 milyar

    Ada pun impor sebesar 138 juta barrel biayanya:
    dari http://www.nymex.com harga minyak mentah US$ 40/brl. Kita markup saja jadi US$ 45/brl (markup jgn gede2:). Jadi total biaya US$ 60/brl.

    Berarti pada harga Rp 4.000/liter, kerugiannya:
    US$ 58-60 x 138 juta = US$ 276 juta

    Secara keseluruhan pemerintah untung=
    US$ 9.576.000.000 – 276.000.000 = US$ 9.300.000.000

    Dengan harga Rp 4.000/liter, pemerintah sudah menangguk keuntungan US$ 9,3 milyar!

    Indonesia mengeluarkan Cost Recovery sampai 30%?
    Itu berarti kurang cerdas. Cost Recovery itu adalah biaya untuk explorasi dan instalasi. Itu harusnya one time only. Dalam 3-4 tahun harusnya sudah BEP/Impas. Bukan jalan terus-menerus apalagi terus meningkat biayanya.

    Kalau untuk 1 juta barrel (kita bulatkan biar mudah menghitungnya) Indonesia memberi kontraktor asing 30%, berarti Indonesia memberi 300.000 brl x US$ 45/brl = US$ 13.500.000 untuk 700.000 barrel minyak mentah.

    Artinya 1 barrel biaya lifting = US$ 19.29/barrel.

    Padahal biaya lifting termasuk cost recovery itu paling mahal US$ 15/barrel!

    Jadi Kwik Kian Gie itu cukup jeli dan cerdas. Dia tidak ingin rakyat Indonesia dibodohi oleh perusahaan minyak asing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s